Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Minggu Misi Sedunia ke-90

“Gereja Misioner, Saksi Kerahiman”

Saudari-saudara terkasih

Yubileum Agung Kerahiman, yang sedang kita rayakan, memberikan cahaya terang bagi Hari Minggu Misi Sedunia tahun 2016. Yubileum ini mengundang kita untuk memikirkan kembali misi ad gentes (kepada bangsa-bangsa) sebagai perkara besar, karya kerahiman yang agung, baik spiritual maupun material. Pada hari Minggu Misi Sedunia ini, kita semua diundang untuk “pergi keluar” sebagai murid-murid yang diutus. Masing-masing dengan murah hati memberikan talenta, kreativitas, kebijaksanaan dan pengalamannya untuk menyampaikan pesan kelemahlembutan dan belarasa Allah kepada seluruh umat manusia. Dengan keutamaan mandat misioner, Gereja memelihara mereka yang tidak mengenal Injil karena Gereja ingin setiap orang diselamatkan dan mengalami cinta Tuhan. Gereja “diutus untuk mewartakan kerahiman Allah, hati Injil yang berdetak” (MV 12) dan memaklumkan belaskasih di setiap sudut dunia, dengan merengkuh setiap orang baik muda maupun tua.

Ketika kerahiman menjumpai seseorang, ia membawa sukacita mendalam kepada hati Bapa karena sejak awal mula Bapa dengan penuh cinta mengarahkan diri kepada yang paling lemah, karena keagungan dan kuasa-Nya dinyatakan dengan tepat dalam kekuatan-Nya untuk memihak kepada yang muda, terpinggirkan dan tertindas (bdk. Ul 4:31; Mzm 86:15; 103:8; 111:4). Ia adalah Allah yang baik hati, perhatian dan setia, yang dekat dengan mereka yang berkekurangan, teristimewa kaum miskin. Dengan kelemahlembutan, Ia melibatkan diri-Nya dalam realitas manusia seperti layaknya seorang bapa dan ibu memberikan dirinya pada hidup anak-anak mereka (bdk. Yer 31:20). Ketika berbicara tentang rahim, Injil menggunakan kata tersebut yang menandakan belaskasih : oleh karena itu kata tersebut menunjuk pada cinta seorang ibu bagi anak-anaknya, yang selalu dia cintai di setiap keadaan dan tanpa memperhitungkan apapun yang terjadi, karena mereka adalah buah rahimnya. Hal ini juga merupakan aspek esensial dari cinta Allah bagi semua anak-anak-Nya, yang Ia ciptakan dan yang Ia ingin bangkitkan dan didik. Dalam wajah kelemahan dan ketidaksetiaan mereka, hati-Nya mengatasi dengan belarasa (bdk. Hos 11:8). Ia berbelaskasih kepada semua. Cinta-Nya ada bagi semua orang dan belarasa-Nya meluas untuk semua ciptaan (bdk. Mzm 144:8-9).

Kerahiman menemukan ungkapannya yang paling mulia dan utuh dalam Inkarnasi Sabda. Yesus menyatakan wajah Bapa yang kaya akan kerahiman. Ia “berbicara tentang (kerahiman) dan menjelaskannya dengan memakai perbandingan dan perumpamaan, tetapi di atas semua itu Ia sendiri membuat kerahiman Allah terjelma dan terpersonifikasi” (Yohanes Paulus II, Dives in Misericordia 2). Ketika kita menerima dan mengikuti Yesus dengan sarana Injil dan sakramen-sakramen, dengan bantuan Roh Kudus kita dapat berbelaskasih seperti Bapa kita di surga berbelaskasih. Kita dapat belajar mencintai seperti Ia mencintai kita dan membuat dari hidup kita suatu anugerah, suatu tanda kebaikan-Nya (bdk. MV 3). Di tengah-tengah kemanusiaan, Gereja pertama-tama adalah komunitas yang hidup oleh belaskasih Kristus : Gereja menyadari tatapan-Nya dan merasakan bahwa Kristus telah memilihnya dengan cinta belaskasih-Nya. Melalui cinta ini, Gereja menjalankan mandatnya, menghidupinya dan membuatnya dikenal oleh semua bangsa melalui dialog yang saling menghormati dengan setiap budaya dan keyakinan religius.

Cinta belaskasih ini, seperti dialami oleh Gereja perdana, dialami pula oleh kaum laki-laki dan perempuan di setiap zaman dan kondisi. Kehadiran kaum perempuan dengan kesungguhan dan terus menerus dalam dunia misioner, dengan bekerja berdampingan dengan kaum laki-laki, merupakan tanda signifikan dari cinta keibuan Allah. Kaum perempuan, awam, religius, dan sekarang ini bahkan banyak keluarga melaksanakan panggilan misioner mereka dalam berbagai bentuk dari pewartaan Injil sampai pelayanan karitatif. Bersama-sama dengan karya penginjilan dan pelayanan sakramental para misionaris, kaum perempuan dan keluarga-keluarga seringkali lebih mampu memahami dengan baik persoalan-persoalan hidup orang dan mengerti bagaimana menanggapinya dengan cara yang sesuai dan kadang dengan cara yang segar : dalam memelihara hidup, dengan berfokus kuat pada orang daripada struktur-struktur, dan dengan menempatkan sumber-sumber manusiawi dan spiritual pada jalinan relasi yang baik, harmoni, damai, solidaritas, dialog, kerjasama dan persaudaraan, baik antar individu maupun hidup kultural, secara khusus dengan memperhatikan kaum miskin.

Di banyak tempat, evangelisasi mulai dengan karya pendidikan. Karya ini menjadi fokus karya misioner dengan memberikannya banyak waktu dan daya usaha, seperti juru taman yang berbelas kasih yang dikisahkan dalam Injil (bdk. Luk 13:7-9; Yoh 15:1), yang dengan sabar menunggu hasil buahnya sesudah bertahun-tahun tidak berbuah. Dengan cara ini mereka membawa suatu umat baru yang mampu berevangelisasi, yang akan mewartakan Injil ke banyak tempat dimana tidak dimungkinkan. Gereja dapat juga disebut sebagai “ibu” bagi mereka yang suatu hari akan beriman pada Kristus. Karena itu, saya berharap bahwa umat suci Allah akan terus menjalankan pelayanan keibuan kerahiman ini, yang membantu mereka yang tidak mengenal Tuhan untuk menjumpai dan mencintai-Nya. Iman adalah anugerah Allah dan bukan hasil iming-iming atau paksaan; hal itu lebih merupakan syukur atas iman dan karitas para penginjil yang memberi kesaksian akan Kristus. Seperti mereka menyusuri jalan-jalan dunia, para murid Yesus memerlukan cinta tanpa batas, ukuran cinta yang sama seperti Tuhan kita miliki bagi semua orang. Kita memaklumkan rahmat yang paling indah dan besar yang telah Ia berikan kepada kita: hidup-Nya dan cinta-Nya.

Semua bangsa dan budaya memiliki hak untuk menerima pesan keselamatan yang merupakan anugerah Allah bagi setiap orang. Hal ini lebih penting ketika kita menimbang betapa masih banyaknya ketidakadilan, perang dan krisis kemanusiaan membutuhkan resolusi. Dari pengalaman para misionaris mengetahui bahwa Injil pengampunan dan belaskasih dapat  membawa sukacita dan rekonsiliasi, keadilan dan perdamaian. Mandat Ini untuk “pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, ajarlah mereka untuk mengetahui semuanya itu seperti yang telah Aku perintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20) tidak berhenti. Mandat ini justru mendorong kita semua, dalam bentangan masa kini dengan segala tantangannya, untuk mendengarkan panggilan kepada “dorongan hati” misioner yang dibarui, seperti telah saya tuliskan di Seruan Apostolik Evangelii Gaudium: “setiap umat Kristiani dan setiap komunitas harus mencari dan menemukan jalan yang ditunjukkan Tuhan, tetapi kita semua diminta untuk mematuhi panggilan-Nya untuk keluar dari zona nyaman kita untuk menjangkau seluruh ‘periferi’ yang memerlukan terang Injil” (EG 20).

Tahun Yubileum ini menandai ulang tahun Minggu Misi Sedunia ke-90, yang ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1926 dan diorganisir oleh Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman. Tepatlah kemudian untuk mengingatkan kembali instruksi bijak pendahulu-pendahulu saya yang meminta Serikat ini mengumpulkan semua persembahan kolekte di setiap keuskupan, paroki, komunitas religius, asosiasi dan gerakan-gerakan gerejawi di seluruh dunia untuk memperhatikan komunitas-komunitas Kristiani yang berkekurangan dan untuk mendukung pewartaan Injil  sampai ujung bumi. Saat ini juga kita percaya pada tanda persekutuan misioner gerejawi ini. Marilah, jangan menutup hati dengan perhatian-perhatian khusus diri kita sendiri, tetapi marilah kita buka hati bagi semua kemanusiaan.

Semoga Bunda Maria yang suci, ikon luhur kemanusiaan yang tertebus, model para misionaris bagi Gereja, mengajar semua laki-laki, perempuan dan keluarga-keluarga, untuk membantu dan menjaga kehadiran Tuhan yang bangkit, hidup dan tersembunyi di setiap tempat, Ia yang membarui relasi-relasi pribadi, budaya-budaya dan bangsa-bangsa, dan yang memenuhi semuanya dengan kerahiman yang menggembirakan.

 

 

Dari Vatikan, 15 Mei 2016

Hari Raya Pentekosta

 

Paus Fransiskus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s