Orang Kristiani Tanpa Akar adalah Orang yang Tidak Bahagia

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 5 Oktober 2017

Bacaan Ekaristi : Neh. 8:1- 4a,5-6,7b-12; Mzm. 19:8,9,10,11; Luk. 10:1-12.

Orang kristiani tanpa akar adalah orang yang tidak bahagia. Itulah pokok homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Kamis pagi 5 Oktober 2017 di Kapel Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci merenungkan pentingnya tetap terikat pada akar kita – terutama akar rohani kita – dan menghindari apa yang beliau sebut “pengasingan psikologis”.

Homili Paus Fransiskus mengacu pada Bacaan Pertama (Neh 8:1- 4a,5-6,7b-12) yang menceritakan Ezra membacakan kitab hukum di hadapan seluruh umat sebelum mereka masuk kembali ke kota suci, Yerusalem, setelah tujuh puluh tahun pembuangan Babel. Paus Fransiskus mengingat air mata nostalgia Nehemia – yang adalah pembawa cangkir Raja Persia, Ataxerxes, di Babel. Kemudian Paus Fransiskus mengingat Mazmur 137:1, yang mengatakan, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion [.]”. Paus Fransiskus juga merenungkan “nostalgia para migran”, mereka yang, “jauh dari rumah dan ingin pulang”.

Setelah bertahun-tahun diasingkan, akar “telah melemah” tetapi tidak hilang. Menemukan akar “berarti menemukan rasa memiliki sebuah bangsa”, kata Paus Fransiskus. “Tanpa akar”, beliau melanjutkan, “kita tidak bisa hidup : sebuah bangsa tanpa akar atau berisiko kehilangan akar, adalah sebuah bangsa yang sakit”:

“Orang tanpa akar, yang telah melupakan akarnya, adalah sakit. Mendapati, menemukan kembali akar mereka dan mengambil kekuatan untuk maju, kekuatan untuk berkembang dan, seperti yang dikatakan oleh si penyair, ‘kekuatan untuk berkembang karena’ – katanya – ‘apa yang ditumbuhkan pohon dari buah yang telah dikuburkannya’. Hanya hubungan antara akar dan kebaikan tersebut yang bisa kita lakukan”.

Tetapi, seiring perjalanan penemuan ini, Paus Fransiskus mencatat, di sana telah terjadi “begitu banyak hambatan” : “Hambatan berasal dari mereka yang lebih memilih pengasingan, dan kalaupun tidak ada pengasingan fisik, pengasingan psikologis : pengasingan diri dari jemaat, dari masyarakat, dari orang-orang yang lebih suka menjadi bangsa yang tercerabut, tanpa akar. Kita harus memikirkan pengasingan diri psikologis ini sebagai sebuah penyakit : pengasingan diri psikologis sangat berbahaya. Pengasingan diri psikologis menghilangkan akar. Pengasingan diri psikologis menghilangkan kepemilikan kita”.

Tetapi bangsa tersebut berjalan maju, dan meraih hari di mana mereka akhirnya membangun kembali kota mereka. Bangsa tersebut berkumpul untuk “memulihkan akar”, yaitu mengatakan, mendengarkan sabda Allah, yang dibaca oleh Ezra sang ahli kitab – dan bangsa tersebut sedang menangis sekali lagi, tetapi kali ini air mata mereka bukan yang tertumpah dilepas pantai Babel : “Itu adalah tangisan sukacita, perjumpaan dengan akar mereka, perjumpaan dengan kepemilikan mereka [dengan Allah dan satu sama lain]”.

Setelah membaca, Nehemia mengundang mereka untuk berpesta. Inilah sukacita orang-orang yang telah menemukan akar mereka : “Pria dan wanita yang menemukan akarnya, yang setia pada keanggotaan mereka, adalah pria dan wanita dalam sukacita – sukacita – dan sukacita ini adalah kekuatan mereka. Dari tangisan kesedihan menjadi air mata sukacita : dari tangisan kelemahan karena jauh dari akar mereka, jauh dari bangsa mereka, menjadi tangisan kepemilikan; ‘Aku pulang’. Aku berada di rumah”.

Paus Fransiskus kemudian mengundang semua umat yang hadir dalam Misa tersebut untuk membaca seluruh kitab Nehemia bab 8, yang dikutip Bacaan Pertama liturgi hari itu, dan bertanya apakah mereka belum pernah “membiarkan ingatan akan Tuhan”, dan jika mereka belum pernah, apakah mereka siap memulai sebuah perjalanan untuk menemukan akar mereka, atau apakah mereka lebih suka tertutup pada diri mereka sendiri dalam pengasingan diri jiwa yang dipaksakan.

Akhirnya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa jika kalian “takut menangis”, kalian akan memiliki, “takut tertawa”, karena, setelah kita menangis dengan dukacita, datanglah air mata sukacita. Oleh karena itu kita harus memohonkan rahmat “tangisan yang menyesal”, tangisan orang-orang yang “bersedih hati atas dosa-dosa mereka”, tetapi juga karena tangisan sukacita, karena Tuhan “mengampuni kita dan telah melakukan dalam kehidupan kita apa yang Ia lakukan dengan bangsa-Nya”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s