Masuk ke Dalam Misteri Yesus

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 24 Oktober 2017 :

Bacaan Ekaristi :Rm. 5:12,15b,17-19,20b-21; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Luk. 12:35-38.

Pusat misteri Yesus Kristus yaitu Ia “mengasihiku” dan “menyerahkan diri-Nya” hingga wafat, bagiku. Itulah kata-kata Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 24 Oktober 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan, yang beliau katakan adalah sebuah meditasi tentang Sengsara Tuhan, Jalan Salib. Pergi ke Misa, berdoa adalah baik, menjadi umat kristiani yang baik, lanjut Paus Fransiskus, namun pertanyaan utamanya adalah apakah kalian telah memasuki misteri Yesus Kristus.

Bapa Suci mengawali homilinya dengan mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Rm 5:12,15b,17-19,20b-21), yang di dalamnya Santo Paulus menggunakan dosa, ketidaktaatan, kasih karunia, pengampunan, untuk mencoba “membawa kita memahami sesuatu”. Di balik semua ini, ada kisah tentang keselamatan. Oleh karena itu, karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan Kristus, Paulus “mengantar kita”, karena kita jatuh di tengah misteri Kristus, Paus Fransiskus menjelaskan. Oleh karena itu, perbandingan-perbandingan ini hanyalah langkah-langkah dalam perjalanan menuju ke dalam misteri Kristus, yang tidak mudah dipahami. Memahami “siapakah Yesus Kristus bagimu”, “bagiku”, “bagi kita”, Paus Fransiskus membahas, adalah jatuh ke dalam misteri ini.

Dalam perikop lain, Santo Paulus, memandang Yesus, mengatakan, “Ia mengasihiku dan menyerahkan diri-Nya bagiku”. Beliau juga mencatat, “ada seseorang yang mau meninggal untuk satu orang benar, tetapi hanya Yesus Kristus yang mau memberikan hidup “untuk orang berdosa seperti aku”. Dengan kata-kata ini, kata Bapa Suci, Santo Paulus mencoba memasukkan kita ke dalam misteri Kristus. Ini tidak mudah, “ini adalah kasih karunia”. Tidak hanya orang-orang kudus yang dikanonisasi telah memahami hal ini, tetapi juga begitu banyak orang kudus “yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari”, orang-orang yang rendah hati yang hanya meletakkan pengharapan mereka dalam Tuhan : mereka memasuki misteri Yesus Kristus yang disalibkan, “yaitu sebuah kegilaan”, Paulus mengatakan seraya mencatat bahwa jika ia membanggakan sesuatu, ia hanya bisa membanggakan “dosa-dosanya dan Yesus Kristus yang disalibkan”, bukan belajar dengan Gamaliel di rumah ibadat, atau hal-hal lainnya. “Pertentangan lain”, adalah hal ini, yang membawa kita pada misteri Yesus, yang disalibkan, “dalam dialog dengan dosa-dosaku”.

Paus Fransiskus menekankan bahwa ketika kita pergi ke Misa, kita tahu bahwa Ia ada di dalam Sabda, bahwa Yesus datang, tetapi hal ini, Paus Fransiskus memperingatkan, tidak cukup untuk memasuki misteri tersebut : “Masuk ke dalam misteri Yesus Kristus adalah lebih dari itu, masuk ke dalam misteri Yesus Kristus adalah marilah pergi ke dalam jurang kerahiman di mana tidak ada kata-kata : hanya pelukan kasih. Kasih yang menyebabkan Ia wafat bagi kita. Ketika kita pergi untuk mengaku dosa karena kita memiliki dosa, kita mengatakan ya, aku harus mendapati dosa-dosaku terangkat, katakanlah, atau ‘Allah mengampuni aku atas dosa-dosaku, katakanlah dosa-dosamu kepada bapa pengakuan, dan kita akan menjadi tenang dan bahagia. Jika kita melakukannya, kita tidak masuk ke dalam misteri Yesus Kristus. Jika aku pergi, aku pergi menemui Yesus Kristus, masuk ke dalam misteri Yesus Kristus, masuk ke dalam pelukan pengampunan yang dibicarakan Paulus, masuk ke dalam karunia pengampunan”.

Ketika ditanya tentang siapakah “Yesus bagimu”, kamu mungkin akan menjawab “Putra Allah”, kamu dapat mengatakan seluruh Syahadat, seluruh katekismus, dan memang benar, tetapi kita akan sampai pada titik di mana kita tidak dapat mengatakan bahwa pusat misteri Yesus Kristus adalah Ia “mengasihiku” dan “menyerahkan diri-Nya bagiku”. “Memahami misteri Yesus Kristus bukanlah masalah belajar”, Paus Fransiskus mencatat, karena “Yesus Kristus hanya dipahami dengan kasih karunia semata-mata”.

Dengan demikian, suatu latihan yang saleh membantu kita : Jalan Salib, yang berupa berjalan bersama Yesus ketika Ia memberi kita “pelukan pengampunan dan kedamaian”.

“Senang sekali melakukan Jalan Salib. Melakukannya di rumah, memikirkan saat-saat dalam Sengsara Tuhan. Bahkan orang-orang kudus besar selalu menasehati agar kita memulai kehidupan rohani bersama perjumpaan dengan misteri Yesus yang disalibkan ini. Santa Teresa menasihati para biarawatinya : untuk melakukan doa kontemplasi, doa yang agung ia mulai dengan meditasi Sengsara Tuhan. Salib bersama Kristus. Kristus di kayu Salib. Mulailah dan pikirkanlah. Dan cobalah untuk memahami dengan hati bahwa Ia mengasihiku dan menyerahkan diri-Nya bagiku, “Ia menyerahkan diri-Nya hingga wafat bagiku”.

Paus Fransiskus mengulangi bahwa di dalam Bacaan Pertama, Santo Paulus ingin membawa kita ke jurang misteri Kristus. “Aku adalah orang kristiani yang baik, aku pergi ke Misa pada hari Minggu, aku melakukan karya-karya kerahiman, aku berdoa, aku mendidik anak-anakku dengan baik : ini sangat bagus. Tetapi pertanyaan yang saya ajukan, ‘Kamu melakukan semua ini, tetapi sudahkah kamu memasuki misteri Yesus Kristus?'”.

Akhirnya, Paus Fransiskus mengingatkan untuk memandang Salib, “ikon misteri teragung penciptaan, ikon segalanya” : “Kristus yang disalibkan, pusat sejarah, pusat kehidupanku”.

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s