Seorang Gembala yang Baik Selalu Dekat Dengan Umatnya

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 30 Oktober 2017 :

Bacaan Ekaristi : Rm. 8:12-17; Mzm. 68:2,6-7ab,20-21; Luk. 13:10-17.

Seorang gembala yang baik selalu dekat dengan umatnya, sementara seorang imam yang buruk hanya tertarik pada kekuasaan dan uang. Itulah pesan Paus Fransiskus dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi, 30 Oktober 2017, di Casa Santa, Vatikan. Homili Bapa Suci mengacu pada Bacaan Injil liturgi hari itu (Luk 13:10-17).

Bacaan Injil menceritakan Yesus sedang berada di rumah ibadat di mana Ia bertemu dengan seorang perempuan yang telah lumpuh selama bertahun-tahun dan tidak dapat berdiri tegak. Paus Fransiskus mencatat bagaimana Lukas menggunakan lima kata kerja untuk menggambarkan tindakan-tindakan Yesus sebagai gembala yang baik yang selalu dekat dengan umat-Nya. Yesus melihat, Ia memanggilnya, Ia berbicara kepadanya, Ia meletakkan tangan-Nya padanya dan Ia menyembuhkannya.

Tetapi para ahli Taurat, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, orang-orang yang sangat jauh dari bangsanya, menegur-Nya terus-menerus. Ini bukanlah para gembala yang baik, Paus Fransiskus menjelaskan, karena mereka tertutup dalam dunia mereka sendiri dan tidak tertarik pada bangsa mereka. Atau mungkin, beliau menambahkan, mereka hanya tertarik pada diri mereka ketika pelayanan selesai dan mereka ingin melihat berapa banyak uang yang terkumpul.

Yesus, di sisi lain, dekat dengan perempuan tersebut dan kedekatan ini berasal dari kasih sayang yang Ia rasakan di dalam hati-Nya. Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus selalu ada di sana bersama orang-orang yang paling terpinggirkan, orang-orang yang telah ditolak oleh sekelompok agamawan, orang-orang miskin dan orang-orang sakit, orang-orang berdosa dan orang-orang kusta. Gembala yang baik mendekat dan merasa iba, beliau berkata seraya menambahkan bahwa ia tidak malu menjamah tubuh terluka dari orang-orang yang terpinggirkan itu, seperti yang dilakukan oleh Yesus.

Seorang gembala yang baik, Paus Fransiskus bersikeras, tidak mengatakan, “Ya, ya, aku bersamamu dalam roh”, dan menjaga jarak, tetapi sebaliknya ia melakukan apa yang dilakukan Allah dengan mengutus Putra-Nya : ia mengajarkan kita untuk menunjukkan belas kasihan dan rasa iba dengan merendahkan dirinya, mengosongkan dirinya dan menjadikan dirinya seorang pelayan bagi orang lain.

Sekelompok agamawan, Paus Fransiskus melanjutkan, hanya dekat dengan kekuasaan dan uang, bersahabat dengan orang-orang yang berpengaruh dan mengkhawatirkan kantong mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang munafik yang tidak tertarik pada umat mereka namun tersinggung ketika Yesus menuduh mereka, mengatakan bahwa mereka selalu mengikuti Hukum Taurat.

Lukas mengatakan kepada kita bahwa seluruh orang banyak bersukacita saat lawan-lawan Yesus dipermalukan – sementara itu adalah sebuah dosa, kata Paus Fransiskus, orang-orang senang karena mereka telah begitu banyak menderita. Tetapi gembala yang baik, beliau mengakhiri homilinya, adalah orang yang melihat, memanggil, berbicara, menjamah dan menyembuhkan. Sama seperti Allah mendekati kita melalui Yesus Kristus, beliau berkata, kita semua akan dihakimi oleh bagaimana kita berusaha dekat dengan orang-orang yang lapar, sakit, dipenjara atau orang-orang dengan berbagai macam kebutuhan.

 

(Sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s